Saturday, January 24, 2015

Tentang Berkembang

Seringkali kita, termasuk saya juga, mengalami suatu titik bosan dengan diri saya sendiri. Anggapan bahwa diri ini tidak ada perkembangannya lah, tidak ada kemajuannya lah, atau apapun itu, tidak jarang muncul dan membuat kita bosan dengan hidup yang begini-begini saja dan salah-salah, malah menjadi suatu bentuk ketidakbersyukuran kita terhadap karunia-Nya.

Atau mungkin kejadiannya seperti yang saya alami: saat saya kelas 3 SD dulu, saya melihat kakak kelas saya yang terpaut 2 tahun lebih tua daripada saya terlihat dewasa; penampilannya, gayanya berbahasa, cara bergaul, dan sebagainya. Dua tahun kemudian ketika daya duduk di kelas 5, saya merasa masih menjadi saya seperti waktu saya kelas 3 dulu. Juga di tahun-tahun berikutnya, saat saya masih menjadi siswa SMP, maka bagi saya ketika itu melihat figur seorang mahasiswa adalah sosok yang dewasa segala sisinya, tampak luwes bergaul dengan sesamanya, punya kemampuan komunikasi yang memang sudah matang, mampu memberikan edukasi terhadap orang lain, dan printilan lain yang berhubungan dengan kesiapan untuk terjun ke masyarakat ke depannya. Dan kini dua tahun sudah saya menyandang titel sebagai mahasiswa; saya tetap merasa selalu menjadi diri yang sama, saya yang dulu.


Jadi, berkembang itu sebenarnya ada atau tidak, sih?

Bagi saya, berkembang adalah proses yang paralel dengan bertambahnya usia kita. Ia berjalan longitudinal terhadap waktu, pun juga usia. Benda yang bergerak di tempat yang juga bergerak, bisa jadi tetap berada di titik yang sama relatif terhadap tempat tersebut, bukan? Sehingga seringkali kita merasa diri kita gini-gini saja. Tidak berkembang, katanya.


Tapi, sudahkah kamu coba tengok ke belakang?

Tengok dirimu sebulan lalu, tiga bulan lalu, satu semester lalu, satu tahun lalu, dan seterusnya. Lalu bandingkan dengan dirimu hari ini, detik ini. Betapa berkembang adalah suatu keniscayaan. Ia ada, meski seringkali kita tidak menyadarinya.

Tentu tidak sependek itu interval waktu kamu mengukur diri untuk tahu seberapa banyakkah kamu berkembang. Berkembang bukan suatu yang instan, maka interval waktu itu bukanlah angka yang bisa dibandingkan dengan durasimu mengkhatamkan sebuah buku personal improvement, setebal apapun buku itu.

Juga mengukurnya, tidak dengan keras kepala. Sematkan selalu rasa syukur di sela-sela tiap perubahan yang telah berhasil kamu capai, seraya tetap berusaha untuk selalu belajar lebih banyak dan tidak lekas puas.





Dan tulisan ini saya dedikasikan untuk teman, sahabat, sekaligus keluarga saya dua tahun belakangan, dan untuk beberapa tahun ke depan: FKUI 2013...

Haru menggenang mengiringi rasa bangga ketika saya putar ulang memori saya tentang kita. Setahun lalu, kita tanpa terkecuali masih menyandang status sebagai 'mahasiswa baru': pakai jaket almamater kuning kebanggaan, satu minggu sekali pergi ke Salemba pagi-pagi untuk mengikuti kegiatan Masa Bimbingan, nametag yang tidak absen dikenakan, dan pergi-pulang petantang-petenteng karena tidak ada beban tambahan yang harus diurus usai pulang kuliah --organisasi misalnya.

Hingga hari kelulusan itu tiba. Mereka, kita, yang didaulat lulus Masa Bimbingan, berbondong-bondong mendaftar badan kemahasiswaan fakultas. Ada yang memang punya ambisi khusus di bidang keorganisasian, ada yang hanya iseng-iseng berhadiah, ada yang karena tidak tahu apalagi yang harus dipertimbangkan, ada yang semata-mata karena ikutan teman, dan ada pula yang alasannya, entahlah, begitu polos dan lugunya kita dulu. Sungguh antara bahagia dan duka, karena yang saya tahu dengan kita menjadi bagian dari organisasi yang beragam, akan semakin sulit pula untuk berkumpul utuh satu angkatan.

Lantas, setahun kepengurusan telah berlalu. Tongkat estafet kepengurusan tentu harus bergilir bergantian. Banyak dari kalian yang kini memegang posisi teratas di organisasi masing-masing: ketua departemen, koordinator bidang, kepala staf ahli, bendahara, sekretaris, bahkan ketua. Betapa kita telah banyak berkembang, teman :')

I support you, guys. Selamat dan semangat mengemban amanah, keluargaku. Tetaplah berkontribusi untuk IKM, berguna untuk semua orang, mengembangkan diri lagi dan lagi, dan selalu ada untuk saudara kandungmu se-PLD kelak.

Sunday, December 21, 2014

"If I could step on other's shoes"

Tidak ada yang salah dari mencoba melihat apa yang mereka lihat, dan merasakan apa yang mereka rasa. Itu empati namanya.

Tapi hidup bukan hanya tentang empati. Tapi juga tentang bagaimana kita belajar, tentang bagaimana kita mengambil hikmah dari setiap detik yang kita lalui, tentang mau atau tidaknya kita untuk meresapi nilai di balik semua yang telah kita lakukan.

Maka sempatkanlah pula dirimu untuk melihat apa yang tidak biasa orang lain lihat.
Untuk mencari tahu lebih dalam lagi, untuk mengevaluasi, dan terlebih: untuk memperbaiki.
See behind what's visible.

Dan sesekali berpikir,
sudah seberapa membantu kah saya di sini?
Atau,
apa yang dapat saya lakukan selanjutnya?

Sunday, December 7, 2014

Selamat belajar, ya, Teman.

Aku selalu berharap agar bisa sepintar dirimu,
senantiasa semangat dalam menuntut ilmu,
serajin itu dan tanpa jemu mengerjakan rutinistasmu.

Terimakasih juga untukmu yang selalu bersedia mengulang kembali materi, yang seharusnya sudah kau kuasai, karena aku, yang satu-dua tertinggal darimu.
Terimakasih untuk keisenganmu men-trigger-ku untuk kembali mengingat materi lalu.
Terimakasih, karena telah sepeduli itu: membuat ponselku berbunyi pagi-pagi agar aku bangun dan melepas mimpi, terutama saat lelapku terbalap oleh tingginya matahari, atau ketika formatif nyaris aku lewati tanpa isi.

Semoga lolos di segala bentuk kompetisi yang sedang/akan kamu ikuti, ya, Teman!
Semoga sukses mengarungi ranah residensi nanti, lima tahun lagi.
Impianmu untuk menjadi konsulen di tempat yang koridornya hanya numpang kau lalui hari ini, pasti akan terwujud, aku yakin.

Sampai bertemu di masa depan.



Salam,
Temanmu :)

Thursday, November 20, 2014

Apakah Kamu Pernah Tahu?

Apakah kamu pernah tahu?

Bahwa setiap detik, setiap waktu yang kamu lalui, adalah merupakan awalan yang selalu baru bagimu. Ketika kamu terjun, masuk, atau tergabung dalam suatu tempat yang baru, kamu selalu punya kesempatan untuk memulai hidupmu dari nol lagi. Ya, memang bukan nol yang absolut, tapi...


Apakah kamu pernah dengar?

Dengan sesuatu bernama "pencitraan". Bisa dibilang, mungkin konsepnya sama. Bisa jadi ini tentang kamu yang pernah melakukan hal-hal bodoh di masa lampaumu, lalu kamu menyesal dan mengevaluasi diri, hingga berjanji bahwa kamu tak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Hingga suatu waktu, kamu berpisah dengan masa kelammu itu, seraya mengalir dan berjalan longitudinal terhadap waktu. Dan terdamparlah kamu di komunitas yang baru. Yang sesuai do'amu setiap waktu: lebih baik dari hari sebelumnya.


Apakah kamu pernah mengalami?

Pusaran waktu yang aneh, namun berulang berkali-kali. Yaitu ketika komunitas barumu bercengkrama tentang sesuatu di masing-masing masa lalu, dan tiap-tiap individu mulai berkata "dulu aku begini" atau "dulu aku begitu". Tapi kamu, kamu terpaku membisu.


Dulu aku juga begitu... Tapi untuk apa mereka tahu? Katamu.

Kamu selalu percaya, bahwa masa depan ada untuk kamu introspeksi, sebagai start-mu untuk memulai yang baru lagi. Ya, lagi. Kamu bisa sedikit semena-mena dengan dunia ketika sebuah tolakan dan ancang-ancang yang baru kamu ambil. Kamu bebas mendeskripsikan siapa kamu, sebagai sosok yang berbeda dari sebelumnya, di tempatmu yang baru. Pun pada kesempatan selanjutnya, siklus yang seperti itu akan selalu ada. Dan keyakinanmu terhadap siklus-yang-akan-selalu-ada itu lah yang lebih kuat dari segalanya.




"Destinations, are where we begin again."
Believe, Josh Groban

Takut Melewatkan

Mengejar yang perlu dikejar. Memperbaiki yang selama ini masih compang-camping. Mendekat dan meminta arahan kepada Dia Yang Satu. Di dun...