Sunday, December 21, 2014

"If I could step on other's shoes"

Tidak ada yang salah dari mencoba melihat apa yang mereka lihat, dan merasakan apa yang mereka rasa. Itu empati namanya.

Tapi hidup bukan hanya tentang empati. Tapi juga tentang bagaimana kita belajar, tentang bagaimana kita mengambil hikmah dari setiap detik yang kita lalui, tentang mau atau tidaknya kita untuk meresapi nilai di balik semua yang telah kita lakukan.

Maka sempatkanlah pula dirimu untuk melihat apa yang tidak biasa orang lain lihat.
Untuk mencari tahu lebih dalam lagi, untuk mengevaluasi, dan terlebih: untuk memperbaiki.
See behind what's visible.

Dan sesekali berpikir,
sudah seberapa membantu kah saya di sini?
Atau,
apa yang dapat saya lakukan selanjutnya?

Sunday, December 7, 2014

Selamat belajar, ya, Teman.

Aku selalu berharap agar bisa sepintar dirimu,
senantiasa semangat dalam menuntut ilmu,
serajin itu dan tanpa jemu mengerjakan rutinistasmu.

Terimakasih juga untukmu yang selalu bersedia mengulang kembali materi, yang seharusnya sudah kau kuasai, karena aku, yang satu-dua tertinggal darimu.
Terimakasih untuk keisenganmu men-trigger-ku untuk kembali mengingat materi lalu.
Terimakasih, karena telah sepeduli itu: membuat ponselku berbunyi pagi-pagi agar aku bangun dan melepas mimpi, terutama saat lelapku terbalap oleh tingginya matahari, atau ketika formatif nyaris aku lewati tanpa isi.

Semoga lolos di segala bentuk kompetisi yang sedang/akan kamu ikuti, ya, Teman!
Semoga sukses mengarungi ranah residensi nanti, lima tahun lagi.
Impianmu untuk menjadi konsulen di tempat yang koridornya hanya numpang kau lalui hari ini, pasti akan terwujud, aku yakin.

Sampai bertemu di masa depan.



Salam,
Temanmu :)

Thursday, November 20, 2014

Apakah Kamu Pernah Tahu?

Apakah kamu pernah tahu?

Bahwa setiap detik, setiap waktu yang kamu lalui, adalah merupakan awalan yang selalu baru bagimu. Ketika kamu terjun, masuk, atau tergabung dalam suatu tempat yang baru, kamu selalu punya kesempatan untuk memulai hidupmu dari nol lagi. Ya, memang bukan nol yang absolut, tapi...


Apakah kamu pernah dengar?

Dengan sesuatu bernama "pencitraan". Bisa dibilang, mungkin konsepnya sama. Bisa jadi ini tentang kamu yang pernah melakukan hal-hal bodoh di masa lampaumu, lalu kamu menyesal dan mengevaluasi diri, hingga berjanji bahwa kamu tak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Hingga suatu waktu, kamu berpisah dengan masa kelammu itu, seraya mengalir dan berjalan longitudinal terhadap waktu. Dan terdamparlah kamu di komunitas yang baru. Yang sesuai do'amu setiap waktu: lebih baik dari hari sebelumnya.


Apakah kamu pernah mengalami?

Pusaran waktu yang aneh, namun berulang berkali-kali. Yaitu ketika komunitas barumu bercengkrama tentang sesuatu di masing-masing masa lalu, dan tiap-tiap individu mulai berkata "dulu aku begini" atau "dulu aku begitu". Tapi kamu, kamu terpaku membisu.


Dulu aku juga begitu... Tapi untuk apa mereka tahu? Katamu.

Kamu selalu percaya, bahwa masa depan ada untuk kamu introspeksi, sebagai start-mu untuk memulai yang baru lagi. Ya, lagi. Kamu bisa sedikit semena-mena dengan dunia ketika sebuah tolakan dan ancang-ancang yang baru kamu ambil. Kamu bebas mendeskripsikan siapa kamu, sebagai sosok yang berbeda dari sebelumnya, di tempatmu yang baru. Pun pada kesempatan selanjutnya, siklus yang seperti itu akan selalu ada. Dan keyakinanmu terhadap siklus-yang-akan-selalu-ada itu lah yang lebih kuat dari segalanya.




"Destinations, are where we begin again."
Believe, Josh Groban

Takut Melewatkan

Mengejar yang perlu dikejar. Memperbaiki yang selama ini masih compang-camping. Mendekat dan meminta arahan kepada Dia Yang Satu. Di dun...